Rabu, 09 Desember 2009

Love you mam

16 tahun silam, tepatnya pada tanggal 22 april 1993, seorang wanita dengan tegar memperuhkan hidupnya demi lahirnya seorang anak yang selama ini diharapkan dan dinanti-nanti selama 9 bulan. Do’a dan lantunan ayat suci selalu menggema di setiap malam, semua itu beliau lakukan untuk mendapatkan anak yang bisa diharapkan. Ketika aku menangis di malam hari ibu rela untuk bangun dan menenangkanku sambil menggendongku, meskipun rasa ngantuk dan lelah menyelimuti, namun beliau tak hiraukan asalkan aku bisa tidur dengan tenang.
Ibu…..
Panggilan untuk seseorang yang terpenting dalam hidupku, seseorang yang begitu tulus menyayangi dan mencintaiku, Seseorang yang dengan sabar mengajariku bagaimana cara berbicara, bagaimana cara berjalan, hingga bagaimana cara menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Seseorang yang tiap malam membacakan dongeng untukku, seseorang yang selalu mengingatkanku untuk sholat dan selalu membangunkan aku di pagi hari. Ibu selalu berpesan kepadaku, ”le, sok neg wes gedhe dadio wong sing bermanfaat gawe wong liyo” begitulah nasehat ibu untukku.
Ibuku seorang guru yang bekerja sejak pukul 7 pagi hingga siang di sebuah sekolah tk yang tak jauh dari rumahku. Dengan ikhlas dan penuh keceriaan beliau menyalurkan ilmu yang beliau miliki kepada murid-muridnya. Beliau merupakan sosok wanita yang yang tak kenal lelah, penuh semangat dan pantang menyerah. Hingga suatu hari saat ibuku hendak berangkat bekerja, aku menangis dan melarang ibu untuk berangkat ke sekolah. Hingga akhirnya ibu harus telat untuk mengajar hanya gara-gara keegoisan dan kebodohanku. Namun ibu selalu sabar dalam menghadapi kenakalanku, walaupun kadang-kadang beliau marah, aku yakin semua itu beliau lakukan demi kebaikanku.
Ibu selalu menjadi pendengar setia cerita-ceritaku, curhatku dan segala kesuh kesahku, kemudian beliau member nasehat, saran dan semangat yang membuatku tetap tegar dalam menghadapi segala cobaan dan menghadapinya dengan senyuman. Namun suatu ketika ketika aku dan adik sedang bertengkar, ibu mencoba untuk melerai, tapi kami tak menghiraukannya malahan pertengkaran kami menjadi lebih parah, aku tak menyangka gara-gara perbuatan kami ibu menangis, kami segera mengakhiri pertengkaran dan aku merasa sangat bersalah, mengapa aku harus menyakiti hati ibu? Padahal ibu tak pernah menyakiti hatiku. Aku begitu bodoh dan egois.
Teringat saat aku duduk di bangku SMP, beliau dengan sabar mengantar dan menjemputku sekolah meski dalam keadaan berpuasa dan mengandung adikku yang kedua, beliau tetap tegar menghadapi semuanya. terik matahari yang begitu panas tak meluluhkan semangat ibundaku untuk tetap mendampingiku dalam menuntut ilmu. Suatu hari ketika guruku memberi tugas untuk membeli resistor, kemudian aku meminta kepada ibu untuk menemaniku membelinya. Dalam keadaan gerimis ibu tetap menemaniku serta rela keliling sudut kota bojonegoro sambil basah-basahan asalka aku dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guruku.
Suatu hari ketika aku sedang istirahat tiba-tiba handphoneku bergetar, ayah memberitahu aku bahwa ibu jatuh pingsan dan beliau dibawa ke dokter pada saat itu, semua konsentrasiku pada pelajaran langsung hilang, yang ada di fikiranku hanya apa yang terjadi pada ibu? bagaimana kondisi ibu? Dan aku ingin tahu itu, aku ingin bertemu dengan ibu. Namun teman-temanku menenangkanku. Kemudian setelah pulang sekolah dan sampai di rumah tanteku yang saat itu aku tinggali, aku langsung mengajak tante untuk pulang dan melihat kondisi ibu, sesampai di rumah aku langsung berlari menghampiri ibu dan langsung memeluknya, air mata menetes dan tak bisa ku tahan, ibu membisikiku “ibu sayang sampean! Jangan menangis ya? Ibu nggak apa-apa kog…” bisikan ibu membuat air mataku semakin tak bisa ku tahan. Kemudian aku segera berdo’a kepada Allah untuk kesembuhan ibu, hingga dua minggu kemudian ibu benar-benar pulih dari sakit, aku sangat bersyukur karena orang yang paling aku sayangi masih bisa bersamaku.
Saat aku akan menginjak ujian nasional SMP, ibu selalu memberi support kepadaku untuk selalu belajar dan banyak beribadah kepada Allah SWT. Sampai-sampai ibu rela puasa senin-kamis hanya untuk mendo’akanku agar diberi kemudahan dalam mengerjakan soal ujian.
Sifat yang ku kagumi dari ibu adalah selalu bersyukur atas segala yang diperoleh, serta pantang menyerah dalam menghadapi segala permasalahan.
Lewat tulisan ini akuucapkan sejuta terimakasih untuk ibundaku tercinta. semoga segala yang telah beliau berikan kepada kami semua mendapat balasan dari allah swt dan semoga aku bisa menjadi sosok yang memiliki semangat tinggi seperti ibu..
amien...
"selamat hari ibu buat semua ibu-ibu di dunia"

0 komentar: